KH Zulfa Mustofa resmi menjabat sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Selasa (9/12/2025). Rapat pleno yang di gelar di Hotel Sultan, Jakarta, menetapkan sosok ini sebagai pengganti Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Selain itu, penunjukan ini menjadi momen penting dalam dinamika internal organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Sosok ulama muda kelahiran Jakarta ini menarik perhatian publik karena silsilah keluarganya yang istimewa. Ia merupakan keponakan dari Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin. Kemudian, garis keturunannya juga menyambung ke ulama besar Nusantara yaitu Syekh Nawawi Al-Bantani.
Penetapan sebagai Pj Ketum PBNU
Rais Syuriah PBNU M Nuh memimpin rapat pleno yang menetapkan KH Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketum. Keputusan tersebut di ambil setelah rapat pleno menerima hasil rapat harian Syuriah pada 20 November 2025. Selain itu, seluruh peserta pleno dari unsur Mustasyar, A’wan, Syuriyah, Tanfidziyah, serta pimpinan lembaga dan badan otonom hadir dalam pertemuan tersebut.
KH Zulfa Mustofa akan menjalankan tugas sebagai Pj Ketum hingga Muktamar NU ke-35 di gelar di Surabaya, Jawa Timur, pada 2026. Ia mengambil alih mandat strategis untuk memimpin jalannya organisasi dan memastikan roda administrasi PBNU berjalan tanpa hambatan. Oleh karena itu, posisi ini sangat krusial dalam menjaga stabilitas organisasi.
Sebelum penetapan ini, KH Zulfa Mustofa menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Tanfidziyah PBNU periode 2022-2027. Pengalamannya di jajaran pimpinan tertinggi PBNU menjadi modal penting untuk mengemban amanah baru ini. Dengan demikian, ia bukan sosok baru dalam dinamika kepemimpinan NU.
Kelahiran dan Silsilah Keluarga
KH Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Dengan usia 48 tahun, ia termasuk dalam jajaran ulama muda yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang kuat. Selain itu, silsilah keluarganya menyimpan hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh besar Islam Nusantara.
Ayahnya bernama KH Muqarrabin, seorang ulama yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Ibunya bernama Nyai Hajjah Marhumah Latifah yang berasal dari Kresek, Kabupaten Tangerang. Kemudian, lokasi asal ibunya hanya berjarak sekitar 12 kilometer dari Tanara, Serang, Banten.
Ibunda KH Zulfa Mustofa merupakan putri dari Nyai Hajjah Maimunah. Sosok ini juga menjadi ibunda dari KH Ma’ruf Amin, mantan Wakil Presiden RI ke-13 sekaligus Mustasyar PBNU. Oleh karena itu, KH Zulfa Mustofa secara langsung merupakan keponakan dari KH Ma’ruf Amin.
Garis keturunan KH Zulfa Mustofa juga menyambung ke ulama legendaris Nusantara. Ia tercatat sebagai cucu kemenakan dari Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama besar yang karyanya menjadi rujukan di berbagai pesantren dunia. Dengan demikian, tradisi keulamaan mengalir dalam darahnya sejak lahir.
Restu dari KH Ma’ruf Amin
KH Zulfa Mustofa secara terbuka menyampaikan hubungan kekerabatannya dengan KH Ma’ruf Amin saat konferensi pers usai penetapan. Ia menegaskan bahwa dirinya telah meminta restu kepada sang paman sebelum menerima amanah baru ini. Selain itu, pernyataan tersebut menunjukkan penghormatan tinggi terhadap tradisi keulamaan NU.
Saat di tanya tentang latar belakangnya, KH Zulfa Mustofa merendah dengan menyebut dirinya bukan siapa-siapa. Ia mengidentifikasi diri sebagai santri dari Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan santri Syuriyah PBNU. Kemudian, ia juga menyebut sebagai santri dari kiai-kiai pesantren besar di Indonesia.
Tradisi meminta restu kepada ulama senior menunjukkan karakter KH Zulfa Mustofa yang menghormati struktur keulamaan. Posisinya sebagai keponakan KH Ma’ruf Amin memberikan legitimasi tambahan dalam kepemimpinannya. Oleh karena itu, banyak kalangan menilai penetapannya dapat menjadi jembatan untuk menyatukan berbagai kubu di internal NU.
Perjalanan Pendidikan
KH Zulfa Mustofa memulai pendidikan formal di SD Al-Jihad, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia menempuh pendidikan dasar di sana hingga kelas 3 SD. Selanjutnya, saat naik kelas 4, ia pindah ke Pekalongan dan menamatkan sekolah dasar di sana.
Jenjang tsanawiyah di tempuhnya di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon, Pekalongan, Jawa Tengah. Saat naik ke kelas 2 tsanawiyah, ia memutuskan pindah ke Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Kemudian, kawasan ini di kenal sebagai pusat pendidikan pesantren yang melahirkan banyak ulama besar.
Di Kajen, KH Zulfa Mustofa menimba ilmu di Pesantren Mathali’ul Falah. Ia menamatkan pendidikan madrasah aliyah pada tahun 1996. Selain itu, dua orang guru yang sangat berpengaruh dalam perjalanan intelektualnya adalah KH A Sahal Mahfudh dan KH Rifa’i Nasuha.
KH A Sahal Mahfudh merupakan ulama besar, pemikir fikih sosial, dan mantan Rais Aam PBNU. KH Rifa’i Nasuha adalah guru dari KH Sahal yang di kenal sangat berwibawa. Oleh karena itu, fondasi keilmuan fikih dan manhaj keulamaan KH Zulfa Mustofa terbentuk dari bimbingan dua tokoh besar ini.
Gagalnya Studi ke Timur Tengah
Usai menyelesaikan pendidikan aliyah pada 1996, KH Zulfa Mustofa memiliki cita-cita melanjutkan studi ke Timur Tengah. Pilihannya adalah Al-Azhar Mesir atau Makkah. Namun, takdir berkata lain dan membawa kehidupannya ke arah yang berbeda.
Saat bulan Ramadan, ia kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan pendidikan. Musibah menimpa keluarganya ketika sang ayah, KH Muqarrabin, wafat tepat pada malam Idul Fitri. Dengan demikian, rencana kuliah ke luar negeri harus di kubur dalam-dalam.
Di usia 19 tahun, KH Zulfa Mustofa harus mengambil peran besar menggantikan ayahnya. Ia mulai mengasuh sekitar lima majelis taklim yang sebelumnya di asuh sang ayah. Oleh karena itu, perjalanan hidupnya sebagai guru dan ulama di mulai jauh lebih awal dari yang di rencanakan.
Mendirikan Majelis Taklim Darul Musthofa
Pada tahun 2000, KH Zulfa Mustofa mendirikan majelis taklim sendiri bernama Darul Musthofa. Lembaga ini berkembang menjadi salah satu pusat pengajian besar di Jakarta. Selain itu, jamaah yang mengikuti kajiannya mencapai ratusan orang.
Tradisi pengajian yang ia bangun tetap di pertahankan hingga saat ini. Aktivitas dakwah dan pendidikan menjadi fokus utama dalam perjalanan kariernya sebagai ulama. Kemudian, pengalaman memimpin majelis taklim selama lebih dari dua dekade membentuk karakternya sebagai pemimpin yang dekat dengan umat.
KH Zulfa Mustofa di kenal sebagai sosok yang tenang, berwibawa, dan rendah hati. Kedekatan dengan santri dan jamaah menjadi ciri khasnya dalam berdakwah. Dengan demikian, ia mampu membangun hubungan emosional yang kuat dengan masyarakat luas.
Kiprah di Organisasi NU
Karier organisasi KH Zulfa Mustofa di mulai pada 1997 ketika bergabung dengan Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dalam organisasi kepemudaan NU tersebut, ia menduduki jabatan di bidang penelitian dan pengembangan. Selain itu, ia bertugas menjalankan program kajian yang kemudian berkembang menjadi tradisi pengajian besar.
Kiprahnya di Ansor terus berlanjut hingga ia di percaya MERIAH4D menjadi Wakil Ketua Umum GP Ansor periode 2015-2020. Pada periode yang sama, ia juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Baitul Mal PBNU. Kemudian, posisi-posisi strategis tersebut menunjukkan kepercayaan organisasi terhadap kapasitasnya.
Pada periode 2021-2026, KH Zulfa Mustofa masuk struktur sebagai Katib Syuriyah PBNU. Kariernya terus menanjak ketika terpilih sebagai Wakil Ketua Umum Tanfidziyah PBNU untuk periode 2022-2027. Oleh karena itu, penetapannya sebagai Pj Ketum merupakan puncak perjalanan organisasinya.
Jabatan di Majelis Ulama Indonesia
Di luar PBNU, KH Zulfa Mustofa juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam struktur MUI periode 2025-2030, ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris MUI Pusat. Selain itu, sebelumnya ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal MUI DKI Jakarta.
Pengalaman di MUI memperluas jaringan dan pengaruhnya di kalangan ulama nasional. Ia juga menjabat sebagai Ketua Komite Fatwa BPJPH Kementerian Agama. Dengan demikian, perannya dalam penguatan ekosistem halal nasional sangat signifikan.
Berbagai posisi strategis tersebut menunjukkan peran kuat KH Zulfa Mustofa dalam bidang fatwa, kebijakan syariah, dan organisasi keulamaan tingkat nasional. Kombinasi pengalaman di NU dan MUI menjadikannya figur yang mampu berbicara dalam diskursus keagamaan dan kebangsaan.
Karya Ilmiah dan Intelektual
KH Zulfa Mustofa di kenal sebagai ulama yang produktif dalam bidang kepenulisan. Ia menerbitkan dua kitab penting yang menjadi rujukan dalam kajian fikih dan keulamaan. Selain itu, karya-karyanya menunjukkan kedalaman ilmu yang ia miliki.
Kitab pertamanya berjudul Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi li al-Mutafaqqih Jahluhu. Karya ini membahas prinsip-prinsip penting dalam dunia fatwa dan pedoman bagi para penuntut ilmu. Kemudian, kitab ini menjadi rujukan dalam kajian metodologi fatwa di berbagai pesantren.
Kitab keduanya berjudul Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi’i. Karya ini berfokus pada pemahaman mendalam terhadap kaidah dan ucapan Imam al-Syafi’i. Oleh karena itu, KH Zulfa Mustofa melanjutkan tradisi penulisan kitab yang di mulai oleh leluhurnya Syekh Nawawi Al-Bantani.
Ia juga di kenal sebagai penyair yang menulis syair biografi Syekh Nawawi Al-Bantani. Keilmuannya dalam bidang ushul fiqh dan kesusastraan Arab di akui luas oleh kalangan pesantren. Dengan demikian, ia merupakan ulama dengan kapasitas intelektual yang mumpuni.
Doktor Honoris Causa dari UINSA
Pada 25 September 2024, KH Zulfa Mustofa menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Penganugerahan gelar tersebut di bidang Ilmu Arudl Kesusastraan Arab. Selain itu, pengakuan akademik ini memperkuat posisinya sebagai cendekiawan Muslim terkemuka.
Saat menerima gelar, ia menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Menghidupkan Kembali Syair Arab di Masyarakat Indonesia”. Kajian tersebut menyoroti kontribusi keindahan syair Arab sebagai instrumen penyampaian pendidikan karakter. Kemudian, orasi ilmiahnya mendapat apresiasi luas dari kalangan akademisi dan ulama.
Kombinasi pendidikan pesantren tradisional dengan pengakuan akademik modern menjadikannya figur ulama yang komplet. Ia mampu berbicara dalam forum tradisional pesantren maupun diskursus akademik kontemporer. Oleh karena itu, banyak kalangan menilainya sebagai representasi ulama masa depan Indonesia.
Kehidupan Keluarga
KH Zulfa Mustofa menikah dengan Hulwatin Syafi’ah. Dari pernikahan tersebut, mereka di karuniai beberapa anak. Selain itu, kehidupan keluarganya di kenal sederhana dan tetap menjaga tradisi pesantren.
Meskipun memiliki silsilah keluarga yang istimewa dan memegang jabatan penting, ia tetap menampilkan kesederhanaan. Kedekatan dengan umat dan jamaah menjadi prioritas dalam kesehariannya. Dengan demikian, karakter ini membuatnya di hormati oleh berbagai kalangan.
Komitmen untuk Persatuan
Usai di tetapkan sebagai Pj Ketum PBNU, KH Zulfa Mustofa menyampaikan komitmennya untuk tidak terlibat dalam konflik masa lalu. Ia ingin menjadi solusi bagi jam’iyyah di masa depan. Selain itu, ia berjanji menjalankan amanah dengan penuh integritas.
Ia menegaskan akan menjalankan amanah seadil-adilnya, sebersih-bersihnya, seikhlas-ikhlasnya, dan sesantun-santunnya. Komitmen menjaga keadaban sebagai santri menjadi landasan kepemimpinannya. Kemudian, sikap ini di harapkan dapat menyatukan berbagai pihak yang sempat berselisih.
Penetapannya di harapkan dapat mengakhiri ketidakpastian yang sempat terjadi di internal organisasi. Ia berkomitmen melakukan normalisasi dan konsolidasi internal. Oleh karena itu, masa transisi menuju Muktamar 2026 di harapkan berjalan kondusif di bawah kepemimpinannya.
Tugas Berat Menuju Muktamar 2026
KH Zulfa Mustofa menghadapi tugas berat untuk mempersiapkan Muktamar NU ke-35 di Surabaya. Sebagai Pj Ketum, ia harus memastikan pelaksanaan muktamar berjalan sah dan sesuai ketentuan organisasi. Selain itu, konsolidasi internal menjadi prioritas utama yang harus segera ditangani.
Dinamika internal yang terjadi sebelum penetapannya memerlukan penanganan yang bijaksana. Berbagai pihak perlu dirangkul untuk mencapai kesepakatan bersama. Kemudian, kepemimpinannya diuji dalam menjaga keseimbangan antara unsur Syuriyah dan Tanfidziyah.
Pengalaman panjangnya di berbagai lembaga keagamaan menjadi modal penting menghadapi tantangan ini. Jaringan yang ia bangun selama bertahun-tahun di NU, MUI, dan berbagai organisasi lainnya dapat dimobilisasi. Oleh karena itu, harapan terhadap kepemimpinannya sangat tinggi dari berbagai kalangan.
Warisan Tradisi Keulamaan
KH Zulfa Mustofa mewarisi tradisi keulamaan yang panjang dari keluarganya. Sebagai keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani, ia memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan tradisi intelektual dan dakwah. Selain itu, keponakan dari KH Ma’ruf Amin menambah beban sekaligus kehormatan yang ia emban.
Tradisi menulis kitab yang dimulai oleh Syekh Nawawi Al-Bantani ia lanjutkan dengan menerbitkan dua kitab penting. Kemampuannya dalam bahasa Arab dan kesusastraan Islam menjadikannya ulama yang kompeten dalam kajian klasik. Kemudian, pengakuan dari UINSA melalui gelar Doktor Honoris Causa semakin memperkuat posisinya.
Karakter kepemimpinan yang ia tunjukkan sejak usia muda membentuk sosoknya menjadi ulama yang matang. Pengalaman mengasuh majelis taklim sejak usia 19 tahun menempa mentalnya dalam menghadapi berbagai dinamika. Dengan demikian, ia siap menghadapi tantangan kepemimpinan di tingkat nasional.
Penutup
KH Zulfa Mustofa membawa harapan baru bagi Nahdlatul Ulama dengan latar belakang silsilah keulamaan yang kuat. Sebagai keponakan KH Ma’ruf Amin dan keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani, ia memiliki legitimasi yang solid di kalangan ulama tradisional. Selain itu, pengalaman panjangnya di berbagai posisi strategis membekalinya untuk memimpin PBNU menuju masa depan yang lebih baik.
Penetapannya sebagai Pj Ketum PBNU menjadi momentum penting dalam perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Kombinasi kapasitas intelektual, pengalaman organisasi, dan karakter kepemimpinan yang teduh menjadikannya figur yang tepat untuk masa transisi. Kemudian, umat berharap ia mampu membawa PBNU menuju Muktamar 2026 dengan penuh kewibawaan dan persatuan.
Sosok ulama muda ini membuktikan bahwa tradisi keulamaan Nusantara terus berlanjut dari generasi ke generasi. Dengan semangat menjaga persatuan dan mengedepankan keadaban sebagai santri, KH Zulfa Mustofa siap mengemban amanah besar yang dipercayakan kepadanya. Oleh karena itu, seluruh warga NU diharapkan mendukung kepemimpinannya demi kebaikan bersama.